Gardupedia.com – Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus dipacu secara masif oleh tim gabungan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memasang target agar dua titik api yang masih tersisa dapat dipadamkan secara menyeluruh pada Jumat (14/8/2026).
Hingga Selasa (11/8/2026), akumulasi area yang terdampak kebakaran tercatat mencapai 889 hektare. Luasan kebakaran tersebut membentang di empat wilayah administratif kabupaten di Jawa Timur, yaitu Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Pasuruan.
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menegaskan bahwa strategi pemadaman saat ini mengombinasikan penyiraman udara (water bombing) dan pengerahan personel darat.
“Kami sudah menyampaikan kepada Danrem, Sekda, kemudian Kalaksa BPBD, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Kita upayakan dua titik ini Jumat sudah selesai,” kata Suharyanto saat meninjau lokasi karhutla pada Selasa (11/8/2026).
Suharyanto menambahkan, jika dua titik api utama tersebut berhasil dipadamkan sesuai target pada Jumat (14/8/2026), sebagian armada udara akan dialihkan. Dari tiga unit helikopter water bombing yang saat ini dikerahkan, dua di antaranya bakal digeser untuk menangani karhutla di daerah lain yang juga membutuhkan penanganan darurat.
Untuk memaksimalkan operasi udara, BNPB menata ulang pola operasional armada helikopter. Langkah efisiensi dilakukan dengan menyiagakan (standby) serta melakukan pengisian bahan bakar (refueling) helikopter langsung di Pasuruan. Penambahan armada juga dilakukan melalui skema sewa oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Perbedaannya adalah helikopter standby di Pasuruan, refueling-nya di Pasuruan, sehingga lebih efektif. Yang dua pesawat kecil harus standby dan refueling-nya di sana,” jelas Suharyanto pada Selasa (11/8/2026).
Dengan pemangkasan jarak tempuh pangkalan ini, durasi penerbangan untuk mengambil air dan bahan bakar dapat dipotong, sehingga frekuensi penyiraman air ke titik api bisa dilakukan lebih sering.
Dalam keterangannya pada Selasa (11/8/2026), Suharyanto mengungkapkan tiga hambatan utama yang dihadapi petugas dalam menjinakkan api di Bromo:
- Kebakaran terjadi di kawasan tebing terjal dengan sudut kemiringan hingga 80 derajat, sehingga tidak memungkinkan untuk dijangkau oleh tim darat.
- Sumber air terdekat untuk mendukung operasi water bombing sangat terbatas dan sebagian besar mengandalkan Danau Ranu Pane.
- Belum ada tanda-tanda curah hujan alami turun di lokasi bencana.
Mengenai kondisi cuaca, BNPB berkoordinasi intensif dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hasil analisis BMKG menunjukkan adanya potensi pembentukan awan hujan di kawasan tersebut pada pertengahan bulan.
“Penjelasan dari BMKG, ada potensi awan hujan tanggal 14 sampai 16 Agustus. Tanggal 18 Agustus juga ada,” terang Suharyanto.
Apabila parameter atmosfer terpenuhi pada periode 14–16 Agustus 2026 atau 18 Agustus 2026, pemerintah berencana menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna memicu pembenihan hujan buatan di atas area Bromo.
BNPB mengingatkan bahwa penanganan bencana tidak selesai begitu api padam. Proses pembasahan (wetting) pada lahan yang hangus tetap wajib dilakukan. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa vegetasi yang mengering kerap memicu munculnya percikan dan bara api kembali. Karena itu, satu armada helikopter disiapkan khusus untuk melakukan pembasahan rutin.
Selain memadamkan api, pemerintah tengah merancang langkah pemulihan bagi masyarakat terdampak. Salah satu prioritas utama adalah perbaikan infrastruktur air bersih.
“Terutama pipa air yang terbakar, meleleh, itu akan diganti semua. Karena kalau bencana besar terjadi, masyarakat tidak mendapatkan air. Kami sudah rencanakan itu,” tegas Suharyanto.
Suharyanto menekankan bahwa karhutla Bromo tidak hanya merusak ekosistem hutan, melainkan juga melumpuhkan sektor perekonomian warga lokal yang bergantung pada industri pariwisata seperti penyedia jasa sewa jip, pemilik warung makan, hingga pengelola homestay. Oleh sebab itu, seluruh unsur yang terlibat diinstruksikan bekerja optimal hingga pemadaman tuntas pada Jumat (14/8/2026) mendatang.


Comment