Berita Politik Regional

Said Abdullah Beberkan Arah Politik PDIP sebagai Partai Penyeimbang

Foto: PDIP

Gardupedia.com – Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP), Said Abdullah, menegaskan kembali arah politik partainya dalam peta pemerintahan saat ini. Ia memastikan bahwa PDIP secara resmi menempatkan diri sebagai partai penyeimbang, keputusan yang diambil berdasarkan hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) partai.

Said menjelaskan bahwa posisi partai penyeimbang ini bukanlah sikap politik yang tidak jelas atau abu-abu. Namun, ia mengingatkan agar masyarakat tidak menyamakannya dengan sistem oposisi murni yang biasa diterapkan di negara-negara Barat.

“Kami memosisikan diri sebagai penyeimbang. Namun, jangan diartikan posisi penyeimbang ini sebagai oposisi seperti yang ada di negara-negara Barat,” ujar Said dalam keterangannya.

Melalui posisi ini, PDIP berkomitmen untuk bertindak secara proporsional dan objektif. Merujuk pada arahan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, Said menerangkan bahwa partai akan memberikan dukungan penuh hingga tahun 2029 apabila pemerintah melahirkan kebijakan serta kinerja yang berpihak dan berdampak baik kepada masyarakat luas.

“Jika kinerja pemerintah itu bagus, membawa dampak positif bagi rakyat banyak, maka wajib hukumnya bagi PDI Perjuangan untuk mendukungnya sampai tahun 2029,” tegas Said. Beliau juga menambahkan bahwa dukungan ini akan diberikan secara tulus tanpa mempertimbangkan apakah kebijakan tersebut menguntungkan PDIP secara elektoral atau tidak.

NU Siap Kawal Pemerintahan Prabowo, Rais Aam PBNU: Selama Tidak Mengajak pada Kekufuran

Sebaliknya, jika ada program atau performa pemerintah yang dirasa kurang berpihak pada rakyat, PDIP akan melayangkan kritik dan masukan yang bersifat membangun (konstruktif).

“Kalau ada kebijakan yang kami pandang kurang berpihak pada rakyat, atau kinerjanya melenceng dari apa yang direncanakan, di situlah fungsi penyeimbang kami berjalan. Kami akan memberikan kritik yang konstruktif dan solutif,” jelasnya lebih lanjut.

Said kemudian menggarisbawahi perbedaan mendasar antara penyeimbang dan oposisi. Dalam pandangannya, kelompok oposisi cenderung menempuh jalan politik yang selalu bertolak belakang dengan penguasa guna mengeksploitasi kelemahan pemerintah demi mendulang keuntungan politik. Sementara itu, sebagai penyeimbang, PDIP justru ingin memastikan roda pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan koridor konstitusi hingga akhir masa jabatan di 2029.

“Oposisi sering kali mengambil posisi ‘asal beda’ atau sengaja mencari-cari kelemahan penguasa demi keuntungan politik partainya sendiri. Kami tidak seperti itu. Kami ingin memastikan pemerintahan di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo Subianto dapat berjalan sukses dan selamat sampai akhir masa jabatan di 2029,” kata Said.

Sikap politik yang dipilih oleh PDIP ini diklaim telah dipahami dengan sangat baik oleh Presiden Prabowo Subianto. Said menyebut bahwa Presiden Prabowo mengapresiasi keputusan tersebut dan menganggap peran PDIP layaknya seorang sahabat yang jujur.

Jumlah Bertambah, 4 Negara Dipastikan Angkat Koper Lebih Awal dari Piala Dunia 2026

“Bapak Presiden Prabowo memahami betul dan mengapresiasi posisi kami. Beliau melihat PDI Perjuangan seperti seorang sahabat sejati, sahabat yang jujur,” ungkap Said.

Menurutnya, Presiden menyadari bahwa sanjungan yang berlebihan justru berpotensi mengaburkan objektivitas yang sangat dibutuhkannya dalam memimpin negara. “Bapak Presiden tahu, asal bapak senang atau sanjungan yang berlebihan itu justru berbahaya karena bisa mengaburkan realitas objektif yang dihadapi bangsa ini. Sebagai sahabat, tugas kami adalah mengingatkan demi kebaikan bersama,” pungkasnya.

Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *