Investasi yang Menggerakkan Perekonomian Indonesia
Sejak beroperasi pada tahun 2021 hingga Mei 2025, Lembaga Pengelola Investasi atau Indonesia Investment Authority (INA) bersama mitra investasinya telah melakukan investasi di Indonesia sebesar Rp65,4 triliun. Angka ini mencerminkan komitmen kuat INA dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui berbagai sektor prioritas.
Menurut Johan Batubara, Direktur Investasi INA, sekitar 40 persen dari total investasi berasal dari kantong INA sendiri, sementara sisanya berasal dari investor mitra. Dalam wawancara dengan media, ia menjelaskan bahwa fokus investasi INA adalah pada sektor-sektor strategis seperti transportasi, logistik, dan infrastruktur; digital; energi hijau dan ekonomi biru; serta kesehatan.
Transportasi, Logistik, dan Infrastruktur
Di bidang transportasi dan logistik, INA bekerja sama dengan DP World, operator pelabuhan terbesar di dunia, serta Pelindo untuk mengelola Pelabuhan Belawan New Container Terminal (BNCT) di Sumatra Utara sejak Januari 2024. Investasi dalam proyek ini mencapai 300 juta dolar AS.
Selain itu, INA juga memperkuat ekosistem logistik Indonesia dengan kemitraan bersama ESR dan Mitsubishi Corporation Urban Development Indonesia (MCUDI). Mereka mengembangkan jaringan pergudangan modern dengan nilai investasi sebesar 100 juta dolar AS.
Dalam upaya memperkuat infrastruktur transportasi, INA berhasil menghadirkan mitra global seperti Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) dan APG Asset Management untuk berinvestasi sebesar 1 miliar dolar AS di Jalan Tol Trans-Sumatra, ruas Medan-Binjai dan Bakauheni-Terbanggi Besar sepanjang 160 km. Proyek ini merupakan ekspansi dari platform jalan tol INA yang sebelumnya telah mengakuisisi ruas Kanci–Pejagan dan Pejagan–Pemalang dari Jalan Tol Trans-Jawa senilai 400 juta dolar AS.
Sektor Digital
Di sektor infrastruktur digital, INA bekerja sama dengan DayOne (sebelumnya dikenal sebagai GDS) membentuk joint venture dengan investasi sebesar 150 juta dolar AS. Proyek ini bertujuan membangun platform pusat data hyperscale berbasis artificial intelligence (AI) di Indonesia mulai 2023. Fasilitas pertama yang berlokasi di Batam mulai beroperasi secara bertahap pada akhir 2024 dan dirancang memiliki kapasitas total sebesar 72,4 MW.
Pada 2022, INA bersama mitra investornya seperti BlackRock, Allianz Global Investors, dan Orion Capital Asia menyuntikkan fasilitas pembiayaan sebesar 300 juta dolar AS ke Traveloka. Di tahun yang sama, INA juga menjadi investor utama dalam penawaran saham perdana (IPO) Mitratel dengan investasi sebesar 800 juta dolar AS.
Sektor Kesehatan
Di bidang kesehatan, INA dan Swire Pacific Limited (Swire Pacific) telah menyelesaikan fase pertama investasi senilai 100 juta dolar AS di PT Pertamina Bina Medika IHC (IHC) pada Juli 2024. IHC merupakan jaringan rumah sakit BUMN terbesar di Indonesia dengan 67 rumah sakit di seluruh nusantara.
Pada tahun yang sama, INA juga mendukung pembangunan fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia bersama SK Plasma, anak perusahaan dari SK Group Korea Selatan. Investasi dalam proyek ini mencapai 150 juta dolar AS.
Sementara itu, pada 2022, INA bersama Silk Road Fund, SWF milik China, membeli obligasi Kimia Farma (KAEF) dan sebagian saham di anak usaha jaringan apotek Kimia Farma, PT Kimia Farma Apotek (KFA), dengan total nilai investasi sebesar 150 juta dolar AS.
Energi Hijau dan Ekonomi Biru
Di sektor energi hijau dan ekonomi biru, INA bersama Masdar berperan sebagai anchor investor dalam IPO Pertamina Geothermal Energy pada 2023 dengan investasi sebesar 500 juta dolar AS.
Pada 2025, INA bersama LBM, BRV, dan LG Energy Solution berinvestasi di sektor mineral dan hilirisasi dengan membangun pabrik katoda Lithium Iron Phosphate (LFP) terbesar di dunia, yang berlokasi di Kendal dengan nilai investasi mencapai 350 juta dolar AS.
Investasi yang dilakukan oleh INA tidak hanya memberikan dampak ekonomi langsung, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan infrastruktur, inovasi teknologi, dan peningkatan kualitas layanan kesehatan serta energi berkelanjutan di Indonesia.


Comment