Uncategorized

Kisah Pilu Nani Nurani, Penyanyi yang Ditahan Tanpa Buktinya

Kehidupan Nani Nurani: Dari Pagar Ayu Istana ke Tahanan Politik

Nani Nurani, yang kini berusia 84 tahun, masih mengingat jelas masa mudanya ketika ia dipercaya menjadi pagar ayu di Istana Negara Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, pada awal tahun 1960-an. Sebagai seorang gadis desa, ia diberi tugas untuk mendampingi tamu negara dan menyiapkan makanan serta minuman bagi Presiden Soekarno.

Dalam perjalanan waktu, bakat Nani dalam bernyanyi terungkap. Ia sering diminta tampil menghibur tamu-tamu penting, bahkan menjadi penyanyi favorit Bung Karno dengan lagu klasik Sunda Degung Budak Cerik. Keahlian ini membuatnya semakin dekat dengan lingkungan istana.

Pada usia 20 tahun, Nani sempat mengajukan permohonan untuk keluar dari istana karena merasa bosan. Di luar istana, ia bisa melihat diplomat-diplomat asing yang menarik. Ketika hujan besar datang, Nani berteduh di sekitar pavilion sambil menyantap kudapan. Saat itu, Dandim Cianjur mengajaknya untuk menyanyi. Dari situ, Nani mulai dikenal sebagai penyanyi dan penari yang memukau.

Pada tahun 1965, Nani diundang untuk tampil dalam acara ulang tahun Partai Komunis Indonesia (PKI) di Cianjur. Meskipun saat itu PKI belum menjadi organisasi terlarang, kehadirannya dalam acara tersebut akhirnya menjadi titik balik dalam hidupnya. Setelah peristiwa G30S/PKI terjadi, Nani dicurigai terlibat dalam gerakan tersebut.

Ketika peristiwa G30S terjadi, Nani sedang berada di Jakarta bersama kakaknya. Tuduhan bahwa ia ikut serta dalam kejadian tersebut membuatnya dituduh terlibat. Akibatnya, Nani harus meninggalkan Cianjur dan mencari pekerjaan di Jakarta.

Dolar AS Mengamuk hingga Rp17.600, Bos BI Ungkap Biang Keroknya

Di Jakarta, Nani menerima tawaran kerja dari PT Takari melalui surat dari Letkol Atmoko. Perusahaan ini dikelola oleh Kodam, Kejaksaan Agung, dan Veteran. Nani bekerja di sana selama beberapa tahun, meski tidak pernah mengetahui tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Pada tahun 1968, Nani pulang ke Cianjur dan ditangkap paksa oleh militer. Ia dan ayahnya dibawa ke Gedung Ampera dan diperiksa semalaman. Meskipun selalu menyangkal, Nani tetap dituduh terlibat dalam G30S/PKI. Jaksa setempat bahkan mengaku malu karena penangkapannya ternyata salah sasaran.

Setelah dua minggu di Gedung Ampera, Nani dipindahkan ke Penjara Perempuan Bukit Duri, Jakarta Selatan. Selama tujuh tahun hidup di balik jeruji, ia menyaksikan penyiksaan terhadap tahanan politik lainnya. Namun, ia berhasil selamat berkat perlindungan mantan atasan, Jenderal Suryo Sumarno.

Pada 19 November 1975, Nani akhirnya bebas karena kondisi kesehatannya memburuk. Ia menyatakan bahwa penahanannya berlangsung tanpa proses pengadilan yang adil. “Di tahun itu, Indonesia seperti tidak punya hukum. Saya dipenjara tanpa pernah terbukti bersalah,” kenang Nani.

Kini, di usianya yang senja, Nani masih menyimpan luka sejarah. Dari seorang pagar ayu istana yang kerap bernyanyi untuk Bung Karno, ia harus menjalani tujuh tahun hidup sebagai tahanan politik karena tuduhan yang tidak pernah terbukti. Meskipun begitu, Nani tetap berharap agar kebenaran tentang peristiwa G30S dapat terungkap dan korban-korban seperti dirinya mendapatkan keadilan.

Zulkifli Hasan Beberkan Alasan di Balik Kesetiaan 15 Tahun PAN Mendukung Prabowo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *