Berita Regional

Gus Salam Desak Muktamar NU ke-35 Kembali ke Pesantren demi Jaga Marwah

Gus Salam sedang sowan silaturrohim KH Achmad Chalwani Nawawi, Rais 'Aly JATMAN.

Jombang – Gelombang usulan lokasi tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 kian memanas. Tidak hanya struktural NU (PWNU-PCNU) di berbagai wilayah menawarkan lokasi sebagai tuan rumah pelaksanaan Muktamar, pesantren pun juga menawarkan lokasi untuk ditempati.

20 tahun Muktamar NU, sejak 2004-2021, empat kali muktamar, para muktamirin, delegasi struktural, penggembira dan pengamat dimanjakan fasilitas infrastruktur modern di luar pesantren. Mulai asrama haji, alun-alun yang disetting ruang pertemuan megah, hingga fasilitas universitas megah.

Menyadari hal itu, KH Abdussalam Shohib, akrab disapa Gus Salam secara vokal mendesak PBNU dan mengajak PWNU-PCNU untuk kembali ke pesantren dalam pelaksanaan forum tertinggi organisasi muktamar ke-35 NU tahun 2026.

Pengasuh PP Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang, ini menilai bahwa lokasi penyelenggaraan bukan sekadar masalah teknis tempat, melainkan kompas moral dan integritas organisasi. Menurutnya, ada kaitan erat antara lokasi muktamar dengan kualitas hasil keputusan yang diambil, sebagaimana Muktamar 1999 dan sebelumnya.

Gus Salam menegaskan bahwa spirit “kembali ke khitah” adalah kembali ke akar NU. Yakni, dimulai dengan menempatkan pelaksanaan muktamar di pesantren. Ia mengamati adanya pergeseran perilaku berjam’iyyah sejak muktamar digelar di luar lingkungan pesantren.

Prabowo-Macron Resmikan “France-Indonesia High Level Business Council” di Paris

“Kami mendukung sekali pelaksanaan Muktamar NU di pesantren. Pesantren mana pun. Kenapa? Ya kita terbuka saja, bahwa tebaran logistik yang kemudian begitu mewarnai Muktamar NU itu dimulai sejak; yang vulgar dan sangat mendominasi itu sejak Muktamar dilakukan tidak di pesantren,” ujar Wakil Ketua PWNU Jatim 2018-2023.

Ia menambahkan bahwa atmosfer spiritual di pesantren memiliki pengaruh psikologis yang tidak dimiliki oleh hotel, asrama haji atau gedung pertemuan megah di pusat kota.

“Kesakralan dan wibawa spiritual pesantren secara psikologis mampu menjadi benteng moral. Maka kami berharap muktamar ini benar-benar kalaupun tidak bisa menghapus riswah (suap) atau politik uang, ya meminimalisir-lah,” ungkapnya.

“Di pesantren, sak nemen-nemen wong NU iku sek ono wedi kualate (separah-parahnya orang NU, masih ada rasa takut kualat),” tambahnya.

Sebagai solusi konkret, Gus Salam mengusulkan agar Muktamar ke-35 diselenggarakan di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, Bangkalan, Madura. Usulan ini bukan tanpa dasar dan alasan kuat. Bangkalan dianggap sebagai pusat gravitasi spiritual NU karena peran historis Syaichona Cholil sebagai syaikhul masyayikh bagi hadratussyeikh KH M. Hasyim Asy’ari, para pendiri, dan masyayikh sepuh NU lainnya.

Begal Merajalela, TNI AD Pastikan Siap Back-up Polri di Lapangan

“Pondok yang punya sejarah kuat seperti di Bangkalan. Ini kan tempatnya Mbah Cholil. Mbah Cholil itu kan guru dari semua pendiri NU. Aura sejarahnya akan membantu meredam ego dan tarikan politik praktis,” tegasnya.

Menanggapi aspirasi tersebut, Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), mengonfirmasi bahwa Muktamar ke-35 memang akan dilaksanakan pada Agustus 2026. Namun, pihaknya masih dalam tahap kurasi karena banyaknya alternatif lokasi yang masuk.

“Belum diputuskan. Tunggu saja banyak alternatif, banyak juga yang meminta kesediaan menjadi tuan rumah,” kata Gus Ipul singkat saat meninjau proyek di Surabaya (3/5).

Hingga saat ini, selain usulan pesantren Syaikhona Cholil di Bangkalan, beberapa pesantren lainnya seperti PP Amanatul Ummah Mojokerto, PP Lirboyo Kediri, PP Al-Hamid Jakarta, PP Walisongo Situbondo, konsorsium PCNU Cirebon Raya dan beberapa PWNU juga terus melobi PBNU untuk menjadi saksi sejarah terpilihnya kepemimpinan NU masa depan.

Debt Collector Dilarang Menagih di Atas Jam 8 Malam dan Dilarang Mengancam

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *