Investasi yang Mengubah Wajah Ekonomi Indonesia
Sejak didirikan pada tahun 2020, Lembaga Pengelola Investasi atau Indonesia Investment Authority (INA) telah mencatatkan komitmen investasi sebesar 25 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Komitmen ini berasal dari investor terkemuka di 15 negara, termasuk tujuh mitra baru yang bergabung pada 2025. Banyak dari mereka adalah investor yang pertama kali menanamkan modalnya di Indonesia.
“Secara global, kita sudah memiliki komitmen sekitar 25 miliar dolar AS tahun lalu dan akan melakukan beberapa lagi. Yang ingin saya soroti di sini adalah tipe-tipe investor yang banyak dari mereka ini baru pertama kali berinvestasi di Indonesia,” ujar Johan Batubara, Direktur Investasi INA, saat berbicara di IDN HQ, Jakarta, pada Kamis (31/7/2025).
APG: Mitra Baru yang Berinvestasi untuk Pertama Kalinya
Salah satu mitra baru yang menarik perhatian adalah APG, lembaga dana pensiun nasional Belanda yang merupakan salah satu yang terbesar di Eropa dan keempat terbesar secara global dengan aset yang dikelola (AUM) sebesar 630 miliar dolar AS. APG menjadi salah satu investor yang pertama kali menanamkan modalnya di Indonesia.
“APG ini baru pertama kali berinvestasi di Indonesia, padahal secara historis, Indonesia dan Belanda memiliki hubungan yang kuat,” jelas Johan. APG membentuk konsorsium bersama ADIA (Abu Dhabi), sebuah dana investasi global, untuk berinvestasi dalam aset jalan tol di Indonesia.
Dua Kelompok Mitra Investasi INA
Johan menjelaskan bahwa mitra investasi INA dibagi menjadi dua kelompok utama. Kelompok pertama terdiri dari investor finansial seperti Sovereign Wealth Fund (SWF), dana pensiun, dan manajer investasi. Beberapa mitra SWF yang telah bekerja sama dengan INA antara lain ADIA (Abu Dhabi), GIC (Singapura), dan Silk Road Fund (China).
Selain itu, ada juga dana pensiun seperti APG, yang merupakan salah satu yang terbesar di Belanda. Ada juga manajer investasi seperti BlackRock dan GIP, yang bermarkas di Amerika Serikat, tetapi memiliki investor yang tersebar di seluruh dunia.
Kelompok kedua terdiri dari perusahaan-perusahaan dengan kemampuan teknis sendiri. Saat ini, INA telah bermitra dengan beberapa perusahaan besar seperti SK Plasma, DP World, DayOne, Masdar, Swire, dan ESR Logos. Perusahaan-perusahaan ini memiliki kapasitas teknis yang kuat dan berkontribusi signifikan dalam berbagai sektor ekonomi.
Investasi Total Sebesar Rp65,4 Triliun
Hingga Mei 2025, INA bersama mitra-mitranya telah melakukan investasi senilai Rp65,4 triliun di Indonesia. Angka ini mencerminkan akumulasi investasi sejak INA mulai beroperasi pada tahun 2021 hingga saat ini. Sekitar 40 persen dari total investasi berasal dari dana INA sendiri, sedangkan 60 persen berasal dari investor pihak ketiga.
Investasi ini tidak hanya bertujuan untuk menciptakan nilai jangka panjang, tetapi juga mendukung agenda pembangunan ekonomi berkelanjutan Indonesia. Konsistensi eksekusi ini memperkuat posisi INA sebagai mitra investasi yang dapat dipercaya, yang mampu menggerakkan dan menyalurkan modal jangka panjang dalam skala besar.
Sektor Prioritas yang Diarahkan oleh INA
INA mengarahkan investasinya ke sejumlah sektor prioritas nasional, yaitu transportasi, logistik, dan infrastruktur; digital; energi hijau dan ekonomi biru; serta kesehatan. Hal ini menunjukkan komitmen INA untuk berkontribusi dalam membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan di Indonesia.


Comment