Gardupedia.com — Gelombang kritik mulai mengalir menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama. Sorotan tajam salah satunya datang dari Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib. Pria yang akrab disapa Gus Salam ini mengkritik arah kebijakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat ini yang dinilai masih sangat “Jawa-sentris”.
Menurut Gus Salam, PBNU di bawah kepemimpinan saat ini cenderung memusatkan program, perhatian, dan energinya di Pulau Jawa saja. Sementara itu, kepengurusan dan warga Nahdliyin di luar Pulau Jawa terkesan kurang mendapat perhatian yang proporsional.
“Kami melihat ada ketimpangan yang nyata. Selama ini program-program strategis dan perhatian elite PBNU masih sangat dominan di Jawa. Padahal, NU ini adalah organisasi global, minimal berskala nasional yang membentang dari Sabang sampai Merauke,” ujar Gus Salam saat memberikan keterangan kepada media.
Gus Salam menambahkan, wilayah-wilayah di luar Pulau Jawa sebenarnya menghadapi tantangan ideologis, sosial, dan ekonomi yang jauh lebih kompleks. Karakteristik daerah yang luas dan keterbatasan infrastruktur organisasi di luar Jawa seharusnya membuat PBNU menaruh perhatian dan pendampingan yang jauh lebih intensif.
“Saudara-saudara kita di PCNU dan PWNU luar Jawa itu berjuang dengan fasilitas dan medan yang sangat berat. Mereka butuh kehadiran fisik, program nyata, serta afirmasi kebijakan dari pusat, bukan sekadar kunjungan seremonial atau pemenuhan administratif organisasi semata,” kata cucu pendiri NU, KH Bisri Syansuri tersebut.
Lebih lanjut, Gus Salam menggarisbawahi bahwa potensi kader di luar Jawa sangat melimpah, namun layu sebelum berkembang karena minimnya ruang aktualisasi dan pembinaan yang terstruktur dari pengurus pusat.
Mengingat agenda Munas dan Konbes NU merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi kedua setelah Muktamar, Gus Salam mendesak agar forum ini tidak hanya dijadikan agenda rutin tahunan yang bersifat formalitas dan sarat akan kepentingan elite.
“Munas dan Konbes kali ini harus menjadi ruang evaluasi total. PBNU harus berani mengoreksi diri, menurunkan ego internal, dan mulai menata kembali keadilan distribusi program kerja. Jangan sampai ada kesan anak emas dan anak tiri dalam berorganisasi,” tegasnya.
Ia berharap hasil dari Munas dan Konbes nanti mampu melahirkan regulasi serta grand design organisasi yang lebih inklusif, sehingga struktur NU di tingkat wilayah (PWNU) maupun cabang (PCNU) di seluruh pelosok Indonesia dapat bergerak bersama secara seimbang demi kemaslahatan umat.


Comment