Kinerja Medco Energi di Semester Pertama 2025
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mencatatkan laba bersih sebesar US$ 37,18 juta atau setara dengan Rp 613,29 miliar pada semester pertama tahun ini. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu sebesar US$ 200,99 juta atau sekitar Rp 3,31 triliun. Penurunan ini mencapai 81,5% dan disebabkan oleh beberapa faktor utama.
Salah satu penyebab utamanya adalah turunnya harga minyak mentah global, yang memengaruhi pendapatan perusahaan. Selain itu, kontribusi negatif dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), salah satu anak perusahaan Medco, juga berdampak pada kinerja keuangan MEDC. Biaya dry hole sebesar US$ 8,9 juta juga turut serta dalam mengurangi laba bersih perusahaan.
Kinerja AMMN yang Menurun
AMMN, yang merupakan perusahaan patungan antara keluarga Panigoro dan grup Salim, mencatatkan rugi operasional sebesar US$ 31 juta atau sekitar Rp 510,93 miliar selama semester pertama 2025. Ini berbeda jauh dibandingkan kinerja pada semester pertama 2024 yang masih mencatatkan laba operasional sebesar US$ 785,18 juta atau sekitar Rp 12,94 triliun.
Penyebab utama kerugian AMMN adalah keterlambatan proses commissioning smelter baru dan fasilitas pemurnian logam mulia. Selain itu, penjualan bersih perusahaan tambang tembaga dan emas ini turun hingga 88,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan AMMN tercatat sebesar US$ 1,54 miliar atau sekitar Rp 25,50 triliun pada semester I 2024, namun hanya tersisa US$ 182,59 juta atau sekitar Rp 300,67 miliar pada semester pertama 2025.
Strategi dan Proyek yang Dijalankan
Meski menghadapi tantangan, CEO Medco Energi, Roberto Lorato, menyatakan bahwa kinerja perusahaan pada paruh pertama tahun ini menunjukkan ketahanan finansial. Hal ini didukung oleh akuisisi tambahan 24% hak partisipasi di Wilayah Kerja (PSC) Corridor, serta kontribusi dari beberapa proyek migas dan ketenagalistrikan yang baru berproduksi.
Penjualan Medco secara keseluruhan terpantau turun hingga 2,3% dari US$ 1,16 miliar pada semester I 2024 menjadi US$ 1,13 miliar atau sekitar Rp 18,76 triliun pada semester pertama 2025. Sementara itu, EBITDA tercatat turun dari US$ 650 juta menjadi US$ 623 juta.
Harga Minyak dan Gas yang Stabil
Penurunan kinerja Medco terjadi di tengah penurunan harga rata-rata realisasi minyak sebesar 14%, dari US$ 81 menjadi US$ 70 per barel. Di sisi lain, harga rata-rata realisasi gas tetap stabil di kisaran US$ 7 per mmbtu.
Realisasi belanja modal Medco mencapai US$ 193 juta, yang sebagian besar dialokasikan untuk kegiatan pengeboran di Blok 60 Oman, pengembangan proyek di South Natuna Sea Block B dan Corridor, serta penyelesaian tahap pertama PLTP Ijen dan proyek PLTS Bali Timur melalui Medco Power.
Kinerja Operasional Perusahaan
Medco mencatatkan produksi migas sebesar 143 mboepd, turun 7% dibandingkan semester pertama 2024. Produksi ini sedikit di bawah target, terutama karena permintaan gas yang rendah secara musiman serta pemeliharaan di Senoro. Biaya produksi tercatat sebesar US$ 8,5/boe.
Produksi diperkirakan akan meningkat di semester kedua 2025 seiring dengan beroperasinya proyek-proyek seperti Forel-Terubuk (Natuna), ekspansi LTR Corridor, pengembangan Senoro Fase 2, Suban, dan fasilitas Bisat-C.
Pengembangan dan Proyek Baru
Akuisisi 24% hak partisipasi Repsol di PSC Corridor telah rampung pada 28 Juli. Perusahaan juga menandatangani perjanjian pertukaran gas domestik pada Mei guna memperkuat pasokan di semester II. Penemuan cadangan baru di sumur West Kalabau-1 (Blok Rimau) ditargetkan mulai produksi pada 2026. Lalu survei seismik 3D di Rebonjaro dan Sumpal mendukung rencana pengembangan lanjutan.
Sektor Ketenagalistrikan
Di sektor ketenagalistrikan, penjualan listrik tercatat 1.994 GWh, sedikit turun dari 2.003 GWh di 1H-2024 akibat pemeliharaan di Riau IPP, gempa di PLTP Sarulla, dan banjir di PLTS Sumbawa. Penurunan ini dikompensasi oleh beroperasinya PLTP Ijen tahap-I (35 MW) pada Februari dan PLTS Bali Timur (25 MWp) pada Juni, yang diresmikan oleh Presiden RI.
Produksi Tembaga dan Emas
Medco melalui AMMN mencatatkan produksi tembaga sebesar 89 juta pon dan emas sebanyak 60 ribu ons. Produksi katoda tembaga pertama dimulai pada Q1-2025 dan langsung diekspor pada April. Proses commissioning fasilitas pemurnian logam mulia dimulai pada Q2-2025 dan berhasil menghasilkan emas murni pertama pada pertengahan Juli 2025.
Target dan Proyeksi Masa Depan
Setelah akuisisi Blok Corridor, Medco Energi menargetkan produksi minyak dan gas sebesar 155–160 mboepd, dengan biaya produksi tetap efisien di bawah US$ 10 per boe. Penjualan listrik diproyeksikan mencapai 4.300 GWh sepanjang tahun. Belanja modal dialokasikan sebesar US$ 400 juta untuk segmen migas dan US$ 30 juta untuk ketenagalistrikan.
“Kinerja kami pada paruh pertama tahun ini menunjukkan ketahanan strategi bisnis kami dan mencerminkan komitmen MedcoEnergi untuk memberikan nilai tambah kepada para pemegang saham,” ucap Hilmi Panigoro, Direktur Utama.


Comment