Berita Regional

Mahasiswa Tarakan Demo Tuntut Pencopotan Lurah dan Direktur PDAM Terkait Polemik Film “Pesta Babi”

Foto: Mahasiswa Tarakan berunjuk rasa di depan kantor Wali Kota (Oktavian Balang/detikKalimantan)

Gardupedia.com – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tarakan menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Wali Kota Tarakan pada Senin (25/5/2026). Massa menuntut agar Lurah Kampung Enam dan Direktur PDAM Tirta Alam segera diberhentikan dari jabatan mereka.

Aksi ini merupakan puncak dari ketegangan yang bermula dari pembubaran kegiatan diskusi akademik dan nonton bareng (nobar) film dokumenter berjudul Pesta Babi di Kelurahan Kampung Enam beberapa waktu lalu.

“Kami sangat menyayangkan sikap arogan yang ditunjukkan oleh oknum pejabat publik. Pembubaran diskusi akademik adalah bentuk pembungkaman suara kritis mahasiswa yang dilindungi undang-undang,” ujar salah satu orator massa.

Massa aksi mulai berkumpul di Gedung KNPI Tarakan sekitar pukul 15.00 WITA. Mereka kemudian melakukan long march menuju Kantor Wali Kota dan tiba di lokasi pada pukul 16.39 WITA. Dalam aksinya, mahasiswa sempat memblokade Jalan Pulau Irian sebagai bentuk protes atas tindakan pejabat daerah yang dinilai antikritik dan sewenang-wenang.

Dalam orasi yang disampaikan, ada dua poin krusial yang menjadi tuntutan mahasiswa:

Sinyal Kuat Mauricio Souza Tetap Tukangi Persija Jakarta Musim Depan

  1. Mahasiswa menilai tindakan Lurah yang membubarkan diskusi dan pemutaran film Pesta Babi pada Selasa (19/5) malam merupakan bentuk penyalahgunaan wewenang (abuse of power). Tindakan tersebut dianggap telah mencederai kebebasan berpendapat dan ruang akademik di masyarakat.
  2. Mahasiswa mendesak agar Iwan Setiawan dicopot dari jabatannya karena diduga terlibat dalam penyebaran data pribadi (doxing) milik pengurus HMI setelah insiden pembubaran tersebut terjadi.

Sebelumnya, video Lurah Kampung Enam, Mika Barung, saat menghentikan nobar tersebut sempat viral. Saat itu, ia beralasan ingin menjaga kondusivitas wilayah dan meminta kelengkapan administrasi. Meskipun kegiatan nobar akhirnya berhasil dilaksanakan kembali pada Rabu (20/5) dengan kehadiran aparat setempat, mahasiswa tetap merasa langkah awal pembubaran dan dugaan kebocoran data pribadi tidak dapat dibenarkan secara hukum maupun etika birokrasi.

“Jika tuntutan ini tidak segera dipenuhi atau setidaknya ditanggapi secara serius oleh Pemerintah Kota, kami pastikan akan ada gelombang aksi susulan dengan massa yang lebih besar,” tutup orator tersebut di tengah riuh teriakan peserta aksi.

Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *