Uncategorized

Mengapa Kapal Bantuan Berlayar Laut Meski Israel Tutup Jalur?

Penangkapan Kapal Bantuan Kemanusiaan oleh Angkatan Laut Israel

Angkatan laut Israel kembali melakukan penangkapan terhadap sejumlah kapal yang merupakan bagian dari Global Sumud Flotilla (GSF), sebuah armada bantuan kemanusiaan yang bertujuan mengirimkan bantuan ke Gaza. Para aktivis yang terlibat dalam misi tersebut, termasuk Greta Thunberg, aktivis iklim asal Swedia, ditahan dan dipindahkan ke pelabuhan Israel untuk menjalani proses deportasi.

Pihak berwenang Israel menyatakan bahwa para aktivis tersebut sedang diangkut ke pelabuhan negara mereka, sementara beberapa kapal masih dicegat pada hari Kamis pagi. Menurut laporan dari GSF, hanya satu kapal yang belum diamankan, meskipun pihak Israel menegaskan bahwa kapal tersebut akan dicegat jika mendekati wilayah perairan mereka.

Sebelumnya, pada pekan lalu, para aktivis melaporkan adanya dugaan serangan terhadap armada mereka. Youssef Samour, salah satu aktivis yang berada di atas kapal, mengatakan bahwa mereka mengalami serangan kimia saat kapal sedang bergerak zig-zag. Pesawat tak berawak mendarat dekat kapal dan menyebabkan iritasi pada wajahnya selama 30 detik. Meski begitu, ia berhasil membersihkan iritasi tersebut dengan air bersih.

Kapal yang ia tumpangi, Yulara, adalah bagian dari GSF, yang terdiri dari sekitar 50 kapal dan 300 aktivis. GSF juga melaporkan adanya ledakan setelah benda tak dikenal dijatuhkan di dek kapal mereka saat berada di laut selatan Pulau Kreta, Yunani. Suara pesawat tanpa awak terdengar di atas kepala aktivis, dan komunikasi terputus. GSF menuduh Israel melakukan “eskalasi berbahaya”.

Meski militer Israel belum memberikan pernyataan resmi tentang serangan tersebut, pejabat Kementerian Luar Negeri Israel, Eden Bar Tal, menyatakan bahwa “Israel tidak akan mengizinkan kapal mana pun memasuki zona pertempuran aktif”. Ia menambahkan bahwa tujuan sebenarnya dari armada ini adalah provokasi dan melayani Hamas, bukan upaya kemanusiaan.

Sihaporas vs Korporat: Menagih Keadilan Agraria di Tanah Ulayat

Bantuan dari Eropa

Dalam langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, Italia dan Spanyol mengirimkan kapal angkatan laut untuk membantu armada bantuan internasional yang sedang berlayar ke Gaza. Baik pihak Italia maupun Spanyol menyatakan bahwa kapal-kapal mereka tidak akan berlayar mendekat hingga jarak kurang dari 278 km dari wilayah Israel/Gaza.

Apa Itu Global Sumud Flotilla?

Global Sumud Flotilla (GSF) dinamai berdasarkan kata Arab Sumud, yang berarti kegigihan atau ketahanan. GSF adalah koalisi kapal yang memuat pasokan bantuan kemanusiaan dan membawa aktivis dari puluhan negara. Tujuan utama GSF adalah “mematahkan pengepungan ilegal di Gaza melalui laut, membuka koridor kemanusiaan, dan mengakhiri genosida yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina”.

Kapal-kapal tersebut berlayar dari pelabuhan di Spanyol, Italia, Yunani, dan Tunisia setelah para ahli dari Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) yang didukung PBB mengonfirmasi bahwa terjadi kelaparan di Kota Gaza dan memperingatkan bahwa bencana itu dapat menyebar ke Gaza tengah dan selatan dalam beberapa pekan.

GSF adalah armada ke-38 yang berlayar menuju Gaza dengan tujuan mematahkan blokade maritim, yang telah berlangsung jauh sebelum perang di Gaza. Ini merupakan upaya terbesar hingga saat ini dalam upaya yang dimulai pada 2008.

Upaya Sebelumnya untuk Mencapai Gaza

Pada 2008, setidaknya satu kapal berhasil mencapai Gaza, tetapi sejak itu semua misi armada serupa tidak berhasil. Pada 2010, pasukan komando Israel mendarat di kapal Mavi Marmara milik Turki, salah satu dari enam kapal yang berjarak sekitar 130 km dari pantai Israel. Pasukan komando tersebut melepaskan tembakan dengan peluru tajam—mereka mengaku diserang terlebih dahulu dengan pentungan, pisau, dan senjata api—yang menewaskan 10 aktivis Turki.

Playoff Usai! Intip Daftar Tim dan Jadwal Drawing 16 Besar Liga Champions

Ide untuk misi GSF ini lahir pada pertengahan Juli setelah tiga kapal yang tergabung dalam Freedom Flotilla Coalition—Conscience, Madleen dan Handala—telah mencoba berlayar ke Gaza antara Mei dan Juli tahun ini. Kapal pertama, Conscience, diduga diserang oleh pesawat tak berawak pada Mei di lepas pantai Malta. Pemerintah Malta mengonfirmasi bahwa kebakaran di atas kapal telah “dipadamkan semalam”.

Madleen berlayar pada Juni dengan membawa 12 orang di dalamnya, termasuk Greta Thunberg, dan menjadi sorotan internasional. Saat itu, Kementerian Luar Negeri Israel menyebutnya sebagai “kapal pesiar swafoto” yang membawa “kurang dari satu truk penuh bantuan”. Kapal pesiar itu dicegat pada dini hari oleh pasukan Israel, sekitar 185 km di sebelah barat Gaza, dan dibawa ke pelabuhan Ashdod di Israel. Thunberg dan yang lainnya kemudian dideportasi.

Pada Juli, kapal lain, Handala, berangkat dengan 21 orang di dalamnya, tetapi pasukan Israel mencegat dan menaiki kapal tersebut sekitar 75 km dari Gaza. Mereka yang berada di kapal mengeluh bahwa mereka berada di perairan internasional pada saat itu, tetapi Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan angkatan laut negara itu menghentikan kapal tersebut “dari memasuki zona maritim pantai Gaza secara ilegal” dan melanggar blokade di sana.

Serangan Terbaru dan Tindakan Pencegahan

Serangan pada Rabu (01/10) bukanlah yang pertama terhadap armada saat ini, menurut GSF, yang mengatakan bahwa kapal mereka juga diserang saat berada di pelabuhan di Tunisia. Tindakan pencegahan ekstra kini diberlakukan menyusul serangan minggu ini terhadap armada.

Abdel Rahman Ghazal—peserta asal Kuwait di atas kapal Spectre—mengatakan kepada BBC dia hanya berjarak setengah meter dari sebuah perangkat yang dijatuhkan oleh pesawat tak berawak meledak pada Rabu lalu. “Kami terkena tiga bom. Bom ketiga jatuh di tepi atas kapal lalu jatuh ke laut. Saya berada di koridor antara tempat bom menghantam tepi dan air. Ada gas yang sangat bau. Baunya sangat menyesakkan dan saya hampir tidak bisa bernapas selama beberapa menit.”

Lelang Proyek Pengadaan: Gerbang Utama Kalangan Kepala Daerah Korupsi Uang Rakyat

Ia mengatakan ia bereaksi cepat dan secara naluriah menyiramkan air laut ke zat yang dijatuhkan. Ghazal dan rekan-rekan relawannya kini mengikuti protokol keselamatan yang lebih ketat di atas kapal. Mereka tidak lagi tidur di area terbuka dan selalu membawa rompi pelampung saat beristirahat.

Kelompok itu mengadakan konferensi pers pada Kamis (02/10), di mana mereka mengatakan mereka memiliki “informasi intelijen yang kredibel” tentang upaya Israel untuk menghentikan armada tersebut dalam 48 jam ke depan. “Kami sedang menyelidiki sumber informasi ini – Israel telah mengatakan selama berminggu-minggu bahwa mereka akan melakukan segala yang mereka bisa untuk menghentikan misi ini,” kata juru bicara GSF. Dia menambahkan semua peserta telah diancam dengan tuntutan hukum berdasarkan undang-undang antiterorisme dan hukuman penjara yang panjang.

Siapa Saja yang Ada di Dalam Armada Itu?

Dari politisi hingga selebritas, GSF dikelola oleh relawan dari puluhan negara. Cucu Nelson Mandela, Mandla Mandela, aktris Amerika Susan Sarandon, aktris Prancis Adele Haenel bersama pejabat terpilih seperti Anggota Parlemen Eropa La France Insoumise Emma Fourreau dan mantan Wali Kota Barcelona Ada Colau semuanya turut ambil bagian.

GSF mengatakan setiap kapal mewakili “sebuah komunitas dan penolakan untuk tetap diam dalam menghadapi genosida.” Thunberg juga ikut serta dalam armada kali ini. Dalam siaran langsung bersama Francesca Albanese, pelapor khusus PBB untuk wilayah Palestina, Thunberg menyebut serangan itu sebagai “taktik menakut-nakuti”. “Kami menyadari risiko serangan semacam ini, jadi itu bukan sesuatu yang akan menghentikan kami,” ujarnya. “Kami sangat, sangat bertekad untuk melanjutkan misi kami.”

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *