Gardupedia.com – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, mengungkapkan bahwa hambatan utama yang membuat pelaku UMKM sulit berkembang bukan sekadar masalah modal, melainkan serbuan barang impor ilegal. Menurutnya, praktik penyelundupan ini telah menciptakan kondisi pasar yang tidak sehat, menyebabkan produk lokal kehilangan daya saing, hingga memicu lonjakan kredit macet.
Maman menjelaskan bahwa saat ini pasar domestik sedang mengalami kondisi yang ia istilahkan sebagai “becek” akibat membanjirnya produk impor murah, terutama dari China. Ia mencontohkan sektor tekstil, di mana terdapat selisih data yang signifikan antara laporan ekspor dari negara asal dengan data impor resmi di Indonesia (indikasi under-invoicing).
Meskipun pelaku UMKM sudah mampu memproduksi barang berkualitas dan mendapatkan bantuan pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), mereka tetap kesulitan menjual produknya karena harga barang impor ilegal jauh di bawah harga produksi lokal.
Stagnasi penjualan ini berdampak langsung pada kemampuan bayar pelaku usaha. Maman menekankan bahwa ketika barang tidak laku, UMKM tidak memiliki pemasukan untuk melunasi pinjaman bank. Hal ini mengakibatkan:
- Kredit Macet (NPL): Rasio kredit bermasalah meningkat karena pelaku usaha gagal bayar.
- Masalah Sosial: Dampaknya tidak hanya menyentuh angka ekonomi, tapi juga menghantam ketahanan rumah tangga. Ketidakmampuan membayar utang sering kali memicu konflik keluarga hingga anak-anak yang terancam putus sekolah.
Maman juga menyoroti adanya kerja sama antara pengusaha ekspedisi atau perusahaan kargo dengan oknum di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Ia menyebut kolaborasi ilegal inilah yang menjadi pintu masuk bagi barang-barang selundupan ke pasar domestik.
“Masalah utamanya ada di pasar. Jika pasarnya tidak diperbaiki dari serbuan barang ilegal, maka pemberian modal sebesar apa pun tidak akan efektif karena produk UMKM tetap tidak akan terserap,” tegas Maman.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !


Comment