Gardupedia.com – Album ketiga dari grup musik Efek Rumah Kaca (ERK), “Sinestesia”, yang dirilis pada tahun 2015, kini memasuki usia satu dekade dan tetap dianggap sebagai karya monumental dalam perjalanan bermusik band tersebut. Bahkan setelah sepuluh tahun, pesan-pesan kritik sosial dan politik yang terkandung di dalamnya dinilai masih sangat relevan dengan kondisi saat ini.
Untuk memperingati pencapaian ini, Efek Rumah Kaca akan menggelar konser perayaan sepuluh tahun album “Sinestesia” di Taman Ismail Marzuki.
Efek Rumah Kaca, yang dibentuk pada tahun 2001, sebelumnya telah merilis dua album, yaitu Efek Rumah Kaca (2007) dan Kamar Gelap (2008). Mereka membutuhkan waktu sekitar tujuh tahun untuk menyelesaikan dan melahirkan album “Sinestesia”.
Salah satu faktor yang menyebabkan proses pembuatan album memakan waktu lama adalah kondisi kesehatan Adrian Yunan Faisal, sang pemain bas, yang penglihatannya mulai memburuk sejak 2009 akibat diabetes. Adrian hanya dapat melihat bintik-bintik warna yang berputar cepat—kondisi yang kemudian menjadi inspirasi utama di balik judul dan konsep lagu-lagu dalam album ini.
Album “Sinestesia” hanya terdiri dari enam lagu, namun memiliki durasi yang sangat panjang, mematahkan pakem umum bahwa lagu harus berdurasi di bawah lima menit. Enam lagu tersebut diberi judul berdasarkan nama warna:
- “Merah”
- “Biru”
- “Jingga” (lagu terpanjang, berdurasi 13 menit 29 detik)
- “Hijau” (lagu terpendek, berdurasi 7 menit 46 detik)
- “Putih”
- “Kuning”
Karya ini menawarkan pengalaman layaknya pertunjukan musikal, dengan lirik-lirik yang disampaikan seperti monolog atau percakapan.
Kematangan musikal yang ditunjukkan dalam album ini membuat majalah Tempo memilih “Sinestesia” sebagai Album Terbaik 2015 dan menobatkan Efek Rumah Kaca sebagai Tokoh Seni di bidang musik pada tahun yang sama.
Kritik sosial dan politik yang mendalam di dalamnya, seperti isu-isu mengenai pemilihan umum yang mengangkat pemimpin yang tidak kompeten atau penculikan aktivis pro-demokrasi tahun 1998, menjadi alasan utama mengapa lagu-lagu “Sinestesia” masih terasa sangat penting dan nyambung dengan situasi politik hari ini. Konser perayaan sepuluh tahun album ini di Taman Ismail Marzuki bahkan menggunakan jeruji besi sebagai pagar panggung, yang melambangkan banyaknya individu yang dipenjara tanpa status hukum yang jelas—sebuah representasi visual dari pesan-pesan politis yang diusung ERK.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !
Editor : Robbi Firmansyah (Tim Redaksi Gardupedia.com)


Comment