Israel Mencegat Kapal Bantuan ke Gaza, 40 Armada Dihentikan
Israel telah mencegat sekitar 40 kapal yang membawa bantuan kemanusiaan menuju wilayah Gaza. Kapal-kapal ini merupakan bagian dari operasi Global Sumud Flotilla (GSF), sebuah inisiatif yang diorganisir oleh kelompok aktivis internasional. Operasi tersebut melibatkan lebih dari 500 relawan dan aktivis dari berbagai negara, yang berupaya mempercepat aliran bantuan kemanusiaan ke wilayah yang terkena blokade.
Dari jumlah tersebut, hanya satu armada yang dikabarkan berhasil melewati pencegatan, yaitu kapal Marinette (Safad). Namun, pihak Kementerian Luar Negeri Israel membantah informasi tersebut dan menyatakan bahwa seluruh kapal dalam rombongan GSF berhasil dicegat.
Seluruh Kapal Dicegat
Menurut pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Israel, tidak ada kapal yang berhasil menembus blokade wilayah Gaza. Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa masih ada satu kapal terakhir dari aksi provokasi ini yang berada pada jarak tertentu. Jika kapal tersebut mencoba mendekat, upayanya untuk memasuki zona pertempuran aktif dan menembus blokade juga akan digagalkan.
Pihak Israel menegaskan bahwa semua kapal yang terlibat dalam operasi GSF telah ditahan, termasuk para aktivis pro-Palestina yang berada di dalamnya. Menurut pernyataan resmi, para penumpang akan dideportasi ke Eropa setelah dicegat. Mereka dalam kondisi aman dan sehat.
Aktivis yang Ditahan
Beberapa tokoh ternama termasuk dalam daftar aktivis yang ditahan. Salah satunya adalah Greta Thunberg, aktivis iklim asal Swedia. Selain itu, Mandla Mandela, cucu Nelson Mandela, serta beberapa anggota parlemen Italia juga terlibat dalam operasi ini. Negara Italia sendiri belakangan dilanda gelombang protes antiperang akibat insiden ini.
Reaksi Internasional
Pencegatan terhadap kapal-kapal GSF memicu reaksi luas dari berbagai negara. Di Italia, gelombang protes terjadi, dan serikat pekerja terbesar menyerukan aksi mogok nasional sebagai bentuk penolakan terhadap tindakan Israel. Menteri Luar Negeri Prancis dan Italia menyatakan sedang berkoordinasi dengan otoritas Israel untuk memastikan keselamatan aktivis. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Turki menggambarkan tindakan Israel sebagai “tindakan terorisme.”
Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, menilai tindakan Israel sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Ia meminta Israel segera mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza dan meminta pembebasan warga Afrika Selatan yang ditahan. Di sisi lain, Presiden Kolombia Gustavo Petro menghentikan perjanjian perdagangan bebas dengan Israel dan mengusir delegasi diplomatik negara tersebut dari Kolombia. Dia menyebut dua warga Kolombia termasuk di antara mereka yang ditahan.
Mengenal Global Sumud Flotilla (GSF)
Global Sumud Flotilla (GSF) adalah inisiatif yang bertujuan untuk menyalurkan bantuan pangan dan obat-obatan ke Gaza. Rombongan ini terdiri dari sedikitnya 40 kapal yang berlayar dari Spanyol dan bergabung dengan kapal-kapal lain saat melintasi Laut Tengah. Menurut Suhad Bishara, pengacara dari lembaga hukum Adalah di Israel, flotilla ini mengangkut sekitar 500 orang.
Tujuan GSF
Tujuan utama dari Global Sumud Flotilla adalah memecah blokade Gaza dan membuka koridor kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan lewat jalur laut. Para aktivis juga ingin menarik perhatian dunia terhadap kondisi kritis di wilayah yang sejak 2007 berada di bawah blokade Israel. Pembatasan barang yang masuk ke Gaza semakin ketat sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023, dipicu serangan Hamas ke Israel selatan yang menewaskan 1.200 orang.
Sejak saat itu, lebih dari 65.000 warga Palestina tewas, baik warga sipil maupun kombatan, menurut otoritas kesehatan Gaza. Pada Agustus lalu, panel ahli pangan yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa sebagian wilayah Gaza sudah mengalami kelaparan. Namun, Israel menolak temuan tersebut dan mempertanyakan metodologinya.


Comment