Berita NASIONAL

Gibran: AI Adalah Alat Bantu Masa Kini, tetapi Teknologi Tanpa Etika Itu Berbahaya

Wakil Presiden (Wapres) RI Gibran Rakabuming Raka menghadiri acara pengajian haul ke-55 KH Wahab Chasbullah di Yayasan PP Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Minggu (10/5/2026). (Dok. Sekretariat Wakil Presiden)

Gardupedia.com – Wakil Presiden (Wapres) RI Gibran Rakabuming Raka memberikan perhatian serius terhadap masifnya pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Gibran menegaskan bahwa penguasaan teknologi mutakhir tersebut wajib diimbangi dengan standar etika yang kuat agar tidak disalahgunakan dan memicu dampak negatif di masyarakat.

“Teknologi tanpa etika itu berbahaya. AI bisa digunakan untuk membuat konten positif, tapi juga bisa dipakai untuk menyebar hoaks, melakukan plagiarisme, atau melanggar privasi orang lain,” ujar Gibran melalui kanal YouTube resminya, Selasa (16/6/2026).

Gibran mengingatkan seluruh lapisan masyarakat bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan harus senantiasa berpijak pada nilai-nilai integritas. Ia melarang keras penggunaan teknologi ini untuk merugikan sesama atau menciptakan polarisasi sosial.

“Jangan gunakan AI untuk menipu, jangan gunakan AI untuk menjatuhkan orang lain,” tegas Wapres.

Menurut putra sulung Presiden ke-7 RI Joko Widodo ini, perkembangan kecanggihan teknologi harus berjalan selaras dengan pertumbuhan moralitas publik. Ia berharap inovasi digital mampu mendorong peningkatan kesejahteraan dan mempermudah kehidupan sehari-hari, bukan justru memicu konflik baru.

Persiapan ke Spanyol, Timnas Futsal Indonesia Panggil 26 Pemain untuk TC

“Kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan kemajuan moralitas kita sebagai bangsa yang beradab,” tutur Gibran.

Dalam pandangannya, AI bukan lagi sebuah konsep teknologi masa depan yang jauh, melainkan sebuah realitas yang dihadapi hari ini. Oleh karena itu, ia mendorong generasi muda untuk proaktif menguasai teknologi ini agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar. Gibran menginginkan anak muda mengambil peran aktif sebagai kreator atau pemain, bukan sekadar penonton pasif.

Kendati demikian, Gibran menggarisbawahi tantangan besar lainnya, yaitu potensi penurunan daya kritis masyarakat akibat terlalu bergantung pada kepraktisan teknologi. Ia berharap kehadiran AI justru menjadi stimulus bagi lahirnya ide-ide kreatif, bukan mematikan fungsi logika berpikir manusia.

“Bayangkan AI sebagai asisten pribadi yang membantu kalian belajar, mencari data, mempelajari bahasa asing lebih cepat, bahkan memahami rumus matematika yang rumit dengan cara yang lebih sederhana,” imbuh Gibran memberikan analogi.

Di akhir pernyataannya, Wapres berpesan kepada para pelajar dan generasi muda agar menempatkan AI secara bijak di ekosistem pendidikan maupun pekerjaan.

Harga Minyak Mentah Dunia Merosot, Kapal Tanker Tetap Pilih Rute Aman Hindari Selat Hormuz

“Sebab itu, pahami bahwa AI adalah alat untuk mempercepat, bukan alat untuk membuat kalian malas,” pungkasnya.

Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *