Berita Regional

Gus Salam: PWNU dan PCNU Rindukan Sosok Pemimpin PBNU yang Teduh, Mengayomi dan Berintegritas

KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam) Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang

Jombang — Gelombang aspirasi dan evaluasi terhadap arah kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat ini terus bergulir dari kalangan pesantren dan pengurus daerah. Kritik serta harapan agar organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia ini kembali pada jalurnya disuarakan secara lantang oleh KH Abdussalam Shohib, atau yang akrab disapa Gus Salam, Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang.

Gus Salam mengungkapkan bahwa saat ini ada kerinduan yang mendalam dari jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di berbagai daerah akan hadirnya gaya kepemimpinan PBNU yang lebih teduh, mengayomi, dan menjunjung tinggi integritas.

Menurut Gus Salam, dinamika organisasi yang terjadi belakangan ini dirasa kurang harmonis dan memicu keresahan di tingkat akar rumput (grassroots). Beliau menilai ada pergeseran budaya organisasi di tubuh PBNU yang kini cenderung menggunakan pendekatan kekuasaan ketimbang merangkul.

“Banyak aspirasi dari wilayah (PWNU) maupun cabang (PCNU) yang merasakan kegelisahan yang sama. Mereka mendambakan PBNU kembali menjadi rumah yang sejuk. Saat ini, yang dirasakan di bawah justru pendekatan yang cenderung top-down, kaku, bahkan sering kali menggunakan instrumen ancaman sanksi atau pembekuan pengurus jika ada perbedaan pandangan. Ini bukan watak asli NU,” ujar Gus Salam.

Beliau menambahkan bahwa tradisi ber-NU yang mengedepankan tabayyun (klarifikasi), musyawarah, dan saling menghormati antarkiai kini mulai tergerus oleh formalitas birokrasi yang kaku.

Rekor yang Berpotensi Dipecahkan Lionel Messi pada Piala Dunia 2026

Gus Salam menyayangkan sikap PBNU yang dinilai mudah mengintervensi kepengurusan di tingkat daerah (PWNU/PCNU) hanya karena dinamika lokal atau perbedaan pilihan yang sifatnya tidak prinsipil.

Pemimpin tertinggi NU, menurut Gus Salam, seharusnya menjadi teladan moral yang selaras antara ucapan dan tindakan. Ia menyoroti pentingnya menjaga marwah dan kredibilitas para pengurus agar tidak terseret dalam polemik publik yang tidak produktif.

Salah satu sorotan tajam Gus Salam adalah inkonsistensi PBNU dalam menjaga Khittah NU 1926. “Publik bisa menilai sendiri bagaimana netralitas organisasi dalam momentum-momentum politik. Klaim tidak berpolitik praktis sering kali tidak sejalan dengan realitas dan manuver di lapangan, dan ini membuat warga NU di tingkat bawah merasa bingung dan tidak nyaman,” tegasnya.

Gus Salam menegaskan bahwa kritik dan suara-suara kerinduan yang ia sampaikan bersama para tokoh daerah lainnya muncul bukan karena dasar kebencian atau sentimen pribadi, melainkan wujud rasa cinta yang mendalam terhadap organisasi yang didirikan oleh para ulama tersebut.

Beliau mendesak agar jajaran PBNU saat ini mau membuka hati dan telinga untuk mendengarkan kembali nasihat para kiai sepuh, pengasuh pesantren, serta pengurus di tingkat basis.

UU Polri Main Ketok Palu Kilat, Mahfud MD: Di Mana Partisipasi Publik?

“Ujian terbesar sebuah organisasi keagamaan adalah konsistensi pada nilai-nilai moral. Kami berharap PBNU segera berbenah, kembali ke Khittah, dan mengutamakan bimbingan spiritual serta kemaslahatan umat, bukan fokus pada konsolidasi kekuasaan atau urusan-urusan taktis di luar wilayah keagamaan. Kembalinya kepemimpinan yang berintegritas adalah kunci agar NU tetap dicintai warganya dan dihormati oleh bangsa,” pungkas Gus Salam.

Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *