Gardupedia.com – Pihak Istana Kepresidenan mengajak seluruh elemen mahasiswa di Indonesia untuk bersinergi dan mendukung penuh langkah Presiden Prabowo Subianto dalam memberantas praktik kebocoran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, M. Qodari, menyatakan bahwa tuntutan yang disuarakan mahasiswa dalam berbagai aksi demonstrasi belakangan ini sebenarnya memiliki kesamaan visi dengan komitmen yang dipegang teguh oleh Kepala Negara. Menurutnya, Presiden Prabowo adalah figur yang berdiri di garis paling depan dalam menjaga uang rakyat.
“Presiden Prabowo Subianto adalah panglima tertinggi dalam perang melawan kebocoran anggaran negara. Jadi, apa yang disuarakan oleh teman-teman mahasiswa saat ini sebenarnya berada di gelombang yang sama dengan apa yang sedang diperjuangkan oleh Presiden,” ujar M. Qodari dalam keterangan persnya di Jakarta.
Qodari menjelaskan, sejak awal memimpin pemerintahan, Presiden Prabowo telah menginstruksikan seluruh jajaran kabinet untuk melakukan penghematan besar-besaran dan memangkas anggaran yang sifatnya tidak mendesak, seperti perjalanan dinas luar negeri dan seremoni yang tidak efisien.
“Pak Prabowo sejak awal berkomitmen tinggi agar tidak ada satu rupiah pun uang rakyat yang menguap sia-sia. Kita tahu, dari hasil pengetatan anggaran non-esensial dan efisiensi birokrasi ini, pemerintah telah berhasil menyelamatkan potensi kebocoran anggaran hingga mencapai Rp300 triliun,” urai Qodari.
Ia menambahkan, salah satu langkah konkret dan strategis pemerintah dalam mengonsolidasikan serta mengamankan kekayaan negara adalah dengan membentuk Badan Pengelola Investasi Danantara. Menurut Qodari, badan ini dirancang untuk memastikan tata kelola aset negara berjalan lebih transparan dan akuntabel.
Terkait maraknya aksi unjuk rasa yang digelar oleh kelompok mahasiswa di berbagai daerah, pihak Istana menegaskan tidak mempermasalahkan hal tersebut. Qodari memandang bahwa demonstrasi adalah hak konstitusional yang dijamin oleh undang-undang dalam sistem demokrasi.
“Pemerintah sama sekali tidak antikritik. Penyampaian aspirasi di muka umum adalah hal yang wajar dan sehat dalam iklim demokrasi kita. Kami justru mengapresiasi kepedulian mahasiswa terhadap isu-isu kebangsaan,” tuturnya.
Kendati demikian, Qodari berharap agar ke depan gerakan mahasiswa tidak hanya berhenti pada tahap kritik di jalanan, melainkan bisa bertransformasi menjadi mitra strategis pemerintah dalam melakukan pengawasan di lapangan.
“Kami membuka pintu komunikasi seluas-luasnya. Kami menantang rekan-rekan mahasiswa untuk memberikan masukan yang konstruktif. Mari kita berkolaborasi; mahasiswa menjadi mata dan telinga di lapangan, dan pemerintah yang mengeksekusi tindakannya. Dengan begitu, ruang gerak para oknum yang ingin membocorkan anggaran negara akan semakin sempit,” pungkas Qodari.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !


Comment