Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi yang Melambat
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2025 diperkirakan melambat, dengan angka pertumbuhan sebesar 4,80% (year on year/YoY). Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada kuartal I/2025 yang mencapai 4,87%. Penurunan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pelemahan daya beli masyarakat, pelambatan aktivitas industri, serta tingginya angka pengangguran.
Menurut survei dari 26 ekonom, kondisi perekonomian Indonesia terus menghadapi tantangan. Pelemahan daya beli disebabkan oleh penurunan kepercayaan konsumen dan kehati-hatian dalam berbelanja. Hal ini juga didukung oleh stagnasi pertumbuhan upah riil, yang membuat rumah tangga lebih waspada dalam menghabiskan uang.
Indikasi Pelemahan Daya Beli
Data menunjukkan bahwa Indeks Penjualan Riil mengalami fluktuasi. Pada April 2025, penjualan eceran sempat terkontraksi sebesar 0,3%, namun meningkat menjadi 1,9% pada Mei 2025. Meski ada peningkatan kecil, hal ini tetap menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga masih lesu.
Selain itu, inflasi inti juga menunjukkan penurunan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi inti pada Juli 2025 sebesar 2,32% YoY, lebih rendah dari periode sebelumnya. Menurut M. Rizal Taufikurahman dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), penurunan inflasi inti menunjukkan adanya indikasi melemahnya tekanan permintaan domestik struktural.
Ia menjelaskan bahwa inflasi inti yang turun di saat inflasi umum meningkat menandakan bahwa tekanan harga berasal dari sisi suplai, terutama untuk komoditas pangan dan energi. Hal ini menunjukkan adanya divergensi antara kelompok masyarakat bawah yang terbebani oleh kenaikan harga kebutuhan pokok, dan kelompok menengah ke atas yang cenderung menahan pengeluaran untuk barang dan jasa non-esensial.
Tren Pelemahan Inflasi Inti
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk., Josua Pardede, menyatakan bahwa tren pelemahan inflasi inti mencerminkan daya beli masyarakat yang masih di bawah potensinya. Ia menilai bahwa penurunan daya beli dan aktivitas konsumsi rumah tangga dapat disebabkan oleh perlambatan ekonomi domestik atau sentimen konsumen yang menurun.
Masalah PHK di Sektor Manufaktur
Di sisi lain, data dari Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) pada periode Januari-Juni 2025 mencapai 42.385 orang, naik 32,1% dibanding tahun lalu. Faktor-faktor penyebab PHK antara lain adalah penurunan permintaan yang memicu pengurangan produksi, perubahan model bisnis, serta masalah internal perusahaan.
Anwar Sanusi, Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kemnaker, menjelaskan bahwa peningkatan PHK terjadi karena adanya kasus PHK besar-besaran di satu perusahaan pada awal 2025. Meskipun demikian, angka PHK pada Juni 2025 menurun menjadi 1.609 orang, turun 65% dari Mei 2025.
Sektor yang Paling Terdampak
Dari segi sektor, pengolahan menjadi yang paling banyak mengalami PHK dengan jumlah tenaga kerja yang ter-PHK sebanyak 22.671 orang. Diikuti oleh perdagangan besar dan eceran serta pertambangan dan penggalian.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur masih menghadapi tantangan besar dalam menghadapi pelambatan ekonomi. Dengan begitu, diperlukan kebijakan yang lebih efektif untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan memperkuat aktivitas ekonomi secara keseluruhan.


Comment