Gardupedia.com — Aliansi negara-negara pengekspor minyak dan sekutunya (OPEC+) dilaporkan telah meningkatkan volume produksi minyak mentah mereka selama empat bulan berturut-turut. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi pelonggaran bertahap atas pemangkasan produksi sukarela yang sebelumnya diterapkan untuk menstabilkan harga. Namun, fenomena unik terjadi di pasar komoditas: meski keran minyak terus dibuka, pasokan minyak dunia terpantau tetap ketat, dan harga minyak mentah global belum menunjukkan tren penurunan yang signifikan.
Mengapa tambahan pasokan dari OPEC+ seolah “menguap” tanpa melonggarkan pasar? Meskipun OPEC+ secara kolektif sepakat untuk menaikkan target produksi selama empat bulan terakhir, kenyataan di lapangan menunjukkan hasil yang berbeda.
Beberapa negara anggota khususnya dari kawasan Afrika seperti Nigeria dan Angola (sebelumnya), serta beberapa produsen sekutu mengalami kendala teknis akibat kurangnya investasi jangka panjang pada infrastruktur sumur minyak mereka.
Negara produsen besar yang berada di bawah sanksi barat atau mengalami konflik internal masih kesulitan mengeksplorasi dan mengapalkan minyak mereka secara maksimal. Akibatnya, kenaikan produksi riil sering kali lebih rendah daripada kuota yang diumumkan ke publik.
Kenaikan produksi OPEC+ selama empat bulan terakhir bertepatan dengan lonjakan konsumsi energi global. Di belahan bumi utara, khususnya Amerika Serikat dan Eropa, periode ini bertepatan dengan puncak musim liburan (summer driving season) dan meningkatnya penggunaan pendingin ruangan (AC) yang menyedot energi dalam jumlah masif.
Geliat pabrik-pabrik di China dan India yang kembali beroperasi penuh pasca-penyesuaian ekonomi global membutuhkan pasokan bahan bakar fosil yang sangat besar, menyerap tambahan pasokan dari OPEC+ hampir seketika.
Pasar minyak tidak hanya digerakkan oleh hukum penawaran dan permintaan fisik, tetapi juga oleh sentimen dan psikologi pasar.
Konflik yang belum mereda di titik-titik jalur pelayaran kritis, seperti Laut Merah dan Selat Hormuz, memaksa kapal-kapal tanker mengambil rute memutar yang lebih jauh (misalnya mengitari Tanjung Harapan di Afrika).
Rute yang lebih jauh ini membuat jutaan barel minyak “tertahan” lebih lama di laut (oil on water) sebagai inventaris perjalanan, alih-alih sampai di kilang-kilang tujuan tepat waktu. Hal ini menciptakan persepsi kelangkaan di pasar spot.
Pada tahun-tahun sebelumnya, Amerika Serikat sering kali meredam ketatnya pasar dengan menggelontorkan minyak dari Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR) mereka. Namun, saat ini stok SPR AS berada di level yang relatif rendah setelah pengurasan besar-besaran di masa lalu. Alih-alih menyuntikkan minyak ke pasar, AS kini justru berada dalam fase perlahan membeli kembali minyak untuk mengisi ulang cadangan mereka, yang secara tidak langsung menambah tekanan permintaan di pasar global.
Harga minyak yang keras kepala di level tinggi membuat biaya energi dan transportasi sulit turun. Hal ini berisiko memicu kembali inflasi global (resurgent inflation), yang dapat memaksa bank-bank sentral dunia (seperti The Fed) untuk menahan suku bunga acuan tetap tinggi lebih lama.
Aliansi yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia ini kini berada di persimpangan jalan. Jika mereka menaikkan produksi terlalu agresif untuk meredam harga, mereka khawatir pasar akan berbalik jeblok jika terjadi perlambatan ekonomi mendadak. Namun jika mereka menahan produksi, harga yang terlalu tinggi dapat merusak daya beli konsumen dan mempercepat transisi ke energi terbarukan.
Para analis memprediksi bahwa pasar minyak global akan tetap berada dalam fase volatilitas tinggi hingga akhir kuartal berikutnya, di mana mata dunia akan tertuju pada pertemuan menteri OPEC+ selanjutnya untuk melihat apakah mereka akan mengubah peta jalan (roadmap) produksi mereka.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !


Comment