Gardupedia.com – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir, memberikan peringatan tegas kepada seluruh pengurus olahraga di tingkat daerah untuk menghentikan kebiasaan merekrut atlet andalan dari wilayah lain secara instan. Larangan ini dikeluarkan demi menjaga sportivitas serta memastikan program pembinaan atlet nasional berjalan optimal menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Erick Thohir menekankan bahwa PON seyogianya menjadi tempat bagi tiap provinsi untuk menunjukkan kesuksesan pembinaan talenta lokal yang dilakukan secara mandiri. Ia menilai tindakan memindahkan atau membajak atlet antar-daerah hanya demi mengejar target medali secara cepat telah merusak esensi utama dari penyelenggaraan PON itu sendiri.
“Jangan (PON 2028) ini jadi ajang bajak-membajak atlet,” kata Erick Thohir kepada awak media usai rapat konsolidasi persiapan PON 2028 di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Erick menambahkan bahwa praktik instan tersebut justru akan menutup kesempatan untuk memetakan potensi riil dari masing-masing wilayah. Menurutnya, pemerintah pusat saat ini sedang menyelaraskan sistem pembinaan yang terstruktur agar tiap daerah bisa fokus pada keunggulan komparatifnya masing-masing.
“Apalagi pemerintah pusat, Bapak Presiden, dan kami Kemenpora sedang menyiapkan yang namanya Akademi Olahraga dari SD, SMP, SMA untuk cabang unggulan dan diselaraskan dengan tadi, sekolah-sekolah yang ada di daerah seperti Ragunan dan lain-lain. Supaya masing-masing provinsi dengan keterbatasan dananya, mereka juga fokus ke cabang-cabang olahraga yang memang mereka mau fokuskan,” jelas Erick.
Guna memastikan kesiapan pesta olahraga yang rencananya digelar di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut, Kemenpora akan segera mengadakan pertemuan dengan jajaran pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Agenda utama pertemuan ini adalah menyelaraskan aturan kompetisi serta menentukan nomor-nomor pertandingan yang disesuaikan secara realistis dengan ketersediaan anggaran.
Langkah koordinasi ini diambil untuk mencegah terjadinya pembengkakan biaya yang tidak diperlukan dalam pelaksanaan ajang multievent empat tahunan tersebut. Erick mengingatkan agar tidak semua nomor olahraga dipaksakan untuk dipertandingkan jika dana yang tersedia tidak mencukupi.
“Jangan sampai kita semua nomor dipertandingkan tapi anggarannya tidak tersedia,” tuturnya.
Selain melarang pembajakan atlet, pemerintah meminta setiap daerah memaksimalkan sarana dan prasarana olahraga yang sudah ada untuk mencetak atlet berkualitas dunia.
Terkait fasilitas, pemerintah juga memastikan tidak akan ada proyek pembangunan arena (venue) olahraga baru untuk PON 2028. Kebijakan ini diterapkan agar pemanfaatan anggaran jauh lebih efisien dan tepat sasaran, berbeda dengan pelaksanaan di periode-periode sebelumnya yang dinilai kurang hemat.
Erick menegaskan bahwa tata kelola birokrasi saat ini mengedepankan efisiensi yang ketat agar setiap dana yang keluar benar-benar membawa dampak positif bagi prestasi olahraga nasional.
“Anggaran yang efektif, efisien harus dilakukan. Jadi ini bukan era birokrasi yang seperti dulu, semua ini harus efisien dan tepat sasaran,” pungkasnya.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !


Comment