Investasi Besar di Teknologi Penangkapan Karbon dan Energi Bersih
Pemerintah Indonesia mengumumkan rencana besar dari perusahaan migas global untuk pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS) serta hilirisasi energi bersih. Proyek ini diharapkan menjadi langkah penting dalam memperkuat sektor energi nasional sambil menjaga keberlanjutan lingkungan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa nilai investasi yang disiapkan dalam proyek-proyek ini mencapai kisaran US$ 10 miliar hingga US$ 15 miliar per perusahaan. Beberapa program telah dipersiapkan oleh investor seperti Exxon Mobil, Shell, dan BP Tangguh. Dengan jumlah investasi yang besar, teknologi tinggi akan digunakan untuk menangkap karbon dari batubara, sehingga dapat mengurangi dampak lingkungan.
Airlangga menambahkan bahwa teknologi CCUS (Carbon Capture, Utilization, and Storage) bisa dikombinasikan dengan pembakaran amonia maupun hidrogen. Hal ini membuka peluang pemanfaatan teknologi batubara bersih secara berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa inovasi sangat penting, dan Indonesia tidak boleh tertinggal dari negara-negara lain seperti Jepang dan Australia yang sudah lebih dulu mengembangkan teknologi ini.
Selain itu, teknologi CCUS juga dinilai memiliki potensi untuk meningkatkan produksi gas bumi melalui mekanisme enhanced gas recovery (EGR). Sebagai contoh, proyek Tangguh Ubadari, CCUS, and Compression (UCC) yang dipimpin oleh BP dan mitra-mitranya di blok Tangguh, Papua Barat, sedang berjalan. Proyek ini membutuhkan investasi sebesar US$ 7 miliar atau sekitar Rp 111,3 triliun.
CEO BP Murray Auchincloss menyatakan bahwa proyek UCC akan menjadi proyek CCS skala besar pertama di Indonesia. Tahap awal proyek ini memiliki potensi menyekuestrasi sekitar 15 juta ton CO₂. Ia juga menekankan bahwa BP telah beroperasi di Indonesia selama lebih dari lima puluh lima tahun dan hubungan yang baik dengan mitra memungkinkan perusahaan membawa pengalaman teknis yang mendalam.
Produksi gas dari lapangan Ubadari ditargetkan mulai pada 2028 dan akan memanfaatkan infrastruktur LNG Tangguh yang sudah ada. Proyek ini telah ditetapkan sebagai proyek strategis nasional (PSN) oleh pemerintah.
Selain BP, perusahaan seperti Shell dan ExxonMobil juga sedang mengevaluasi peluang untuk masuk dalam proyek penangkapan karbon dan pengembangan migas rendah emisi. Namun, keduanya masih berada pada tahap awal evaluasi.
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mengungkapkan bahwa dua perusahaan migas global, Shell dan ExxonMobil, masih berada dalam tahap awal evaluasi untuk menanamkan investasi di sektor hulu migas Indonesia.
Kepala Divisi Prospektivitas Migas & Manajemen Data Wilayah Kerja SKK Migas, Asnidar menjelaskan bahwa Shell hingga saat ini belum menentukan wilayah kerja yang menjadi minat investasinya. Perusahaan masih melakukan evaluasi menyeluruh untuk menentukan investasi di upstream oil & gas di Indonesia, namun belum menetapkan area of interest yang pasti.
Sementara itu, ExxonMobil Indonesia juga belum mengunci keputusan investasinya. Asnidar menyebut, perusahaan asal Amerika Serikat itu masih menjalankan studi geologi dan geofisika (G&G), serta melakukan akuisisi data atau survei tambahan untuk memperkuat dasar pengambilan keputusan investasi.
Proyek-proyek ini menunjukkan komitmen pemerintah dan perusahaan internasional untuk mengembangkan teknologi ramah lingkungan dan memperkuat sektor energi nasional. Dengan pendekatan inovatif dan kolaborasi yang kuat, Indonesia berpotensi menjadi pusat pengembangan teknologi energi bersih di kawasan Asia Tenggara.


Comment