Inovasi Mobil Nasional Berbasis Baterai di GIIAS 2025
PT Teknologi Militer Indonesia (TMI) baru-baru ini memperkenalkan proyek mobil nasional atau mobnas berbasis baterai EV0 yang diberi nama i2C (Indigenous Indonesian Car). Proyek ini hadir dalam ajang pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten. Mobil ini menjadi bagian dari komitmen terhadap inovasi dan visi mobilitas masa depan Indonesia.
Pakar rekonstruksi Keuangan Muliandy Nasution, yang terlibat dalam tim MobNas I2C, menyampaikan bahwa seluruh desain mobil telah menggunakan pendekatan financial engineering sejak awal. Tujuannya adalah memastikan ketika masuk tahap produksi, biaya dapat ditekan seoptimal mungkin.
“Dari proses sketsa hingga finalisasi desain, kami melakukan optimalisasi biaya serta mengkalkulasi berbagai skenario sistem produksi untuk menekan seluruh biaya,” ujar Muliandy. Ia menjelaskan bahwa desain eksterior dan interior juga dipertimbangkan agar mobil bisa diproduksi dengan nilai TKDN maksimal namun tetap dengan harga terjangkau.
Sejarah Wacana Mobil Nasional di Indonesia
Wacana tentang mobil nasional telah berkembang sejak era kepemimpinan Presiden Sukarno, yang ingin memiliki mobil nasional. Pada tahun 1961, ia mendirikan PT Industri Mobil Indonesia (Imindo). Di awal 1970-an, kebijakan Kendaraan Bermotor Niaga Sederhana (KBNS) mulai diberlakukan untuk mendorong mobil berkomponen lokal tinggi.
Pada masa itu, PT Garuda Makmur Motor mulai memproduksi mobil Mini Transportasi Rakyat (Mitra) untuk mengurangi ketergantungan pada impor kendaraan. Sayangnya, mobil tersebut berganti nama menjadi Mobil Rakyat Indonesia (Morina) dan akhirnya tidak sukses serta berhenti produksi pada 1980.
Pada 1996, Soeharto menginstruksikan beberapa menteri untuk merintis kembali mobil nasional. Saat itu, PT Timor Putra Nasional (TPN) atau yang dikenal sebagai Timor menjadi perintis mobil nasional. Namun, kehadiran Timor mendapat protes dari industriawan Jepang karena dinilai tidak adil terhadap produsen mobil asing.
Kiprah Esemka di Era Jokowi
Wacana mobil nasional kembali muncul di era kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) di akhir masa jabatannya sebagai Wali Kota Solo. Cikal bakal mobil nasional Jokowi sudah ada sejak 2007, dimulai oleh Sukiyat, pemilik bengkel Kiat Motor. Ia membantu siswa SMK di daerah Solo dan Jawa Tengah dalam merakit SUV yang didukung oleh Direktorat Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Pada 2009, prototipe Rajawali (R1) berhasil ditunjukkan kepada masyarakat. Untuk pengembangan lebih lanjut, dibentuklah badan usaha PT Solo Manufaktur Kreasi yang disebut Esemka. Esemka kemudian meluncurkan prototipe kedua yaitu Esemka Bima 1.1 dan Esemka Rajawali R2.
Di 2012, Jokowi yang masih menjabat sebagai Wali Kota Solo memilih Esemka sebagai kendaraan dinasnya. Namun, mobil Rajawali gagal melalui tes kelayakan dan batas emisi. Meskipun begitu, peluncuran prototipe ketiga dengan nama Esemka Rajawali R2 MT tetap dilanjutkan.
Esemka di Tengah Perjalanan
Pamor Esemka meningkat saat kampanye pemilihan presiden 2014. Jokowi berjanji merealisasikan mobil nasional sebagai pemimpin negara. Sejak 2015, Esemka resmi bergabung dengan Adiperkasa Citra Lestari dan berganti nama menjadi ACEH (Adiperkasa Citra Esemka Hero). Pada 2017, Esemka diagendakan untuk memproduksi mobil secara massal.
Namun, setelah habis masa jabatannya di periode pertama, Esemka tidak kunjung direalisasikan. Nama Esemka kembali disebut oleh Ma’ruf Amin, yang menyampaikan rencana peluncuran mobil nasional dan awal produksi massal mobil Esemka pada Oktober 2018. Produksi massal mobil nasional Esemka disebut dilakukan pada September 2019. Aktivitas pabrik sempat vakum karena dampak pandemi COVID-19 pada 2020 hingga 2022.
Kiprah Baru dengan i2C
Seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar, kini PT TMI melalui proyek i2C hadir sebagai jawaban atas tantangan mobilitas masa depan. Dengan konsep mobil listrik nasional, i2C menunjukkan komitmen kuat terhadap inovasi dan keberlanjutan. Proyek ini tidak hanya bertujuan menciptakan mobil nasional, tetapi juga memastikan bahwa produk tersebut dapat diproduksi dengan biaya yang terjangkau dan nilai TKDN yang maksimal.


Comment