Kinerja Premi Asuransi Umum dari Kanal Bancassurance Terpengaruh Lesunya Penyaluran Kredit
Kinerja pendapatan premi asuransi umum dari kanal bancassurance tercatat mengalami penurunan akibat lesunya penyaluran kredit oleh bank. Hal ini disampaikan oleh Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan, yang menegaskan bahwa bank masih menjadi salah satu saluran distribusi penting dalam pemasaran produk asuransi umum. Namun, tren penyaluran kredit yang melandai turut memengaruhi penurunan pendapatan premi dari kanal bancassurance.
Budi menjelaskan bahwa faktor eksternal seperti perlambatan daya serap pasar terhadap produk-produk yang berkaitan dengan pembiayaan perbankan, seperti sektor properti dan otomotif, berdampak pada kinerja industri asuransi umum. Penyaluran kredit yang lebih lesu memberikan tekanan terhadap perolehan premi pada kanal bank atau bancassurance, karena penarikan kredit seperti KPR dan otomotif langsung dikaitkan dengan penjualan asuransi kredit dan asuransi kendaraan.
Menurut data penyaluran kredit industri perbankan, pertumbuhan kredit pada periode Januari—Mei 2025 mencapai 8,43% YoY menjadi Rp7.998 triliun. Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, yaitu sebesar 10,38% YoY pada Desember 2023, 12,15% YoY pada Januari—Mei 2024, 10,46% YoY pada Desember 2024, dan 8,88% YoY pada Januari—April 2025.
Dampak dari kondisi ini juga terasa pada industri asuransi umum. Premi yang berasal dari bancassurance pada 2023 mencapai Rp6,78 triliun atau 6,8% dari total premi. Realisasi ini mengalami penurunan 27,4% YoY menjadi Rp4,93 triliun atau 4,7% dari total pada 2024. Berdasarkan data terbaru, premi asuransi umum via bancassurance pada kuartal I/2025 hanya berkontribusi 4,4% dari total premi industri.
Perkembangan Kanal Distribusi Lain
Meskipun kanal bancassurance mengalami penurunan, tercatat bahwa kanal badan usaha selain bank (BUSB) pembiayaan atau leasing mengalami pertumbuhan. Premi asuransi umum dari distribusi leasing pada 2024 tumbuh 1,1% YoY menjadi Rp15,15 triliun atau 14,6% dari total premi. Pada periode Januari—Mei 2025, kontribusinya atas total pendapatan premi asuransi umum sedikit mengecil menjadi 13,5%, meskipun pangsa pasarnya tiga kali lipat lebih besar dari perbankan.
Budi menjelaskan bahwa kanal distribusi melalui BUSB, seperti perusahaan pembiayaan (leasing), relatif lebih aktif pada segmen-segmen kendaraan roda dua dan pembiayaan konsumer lainnya yang lebih resilient terhadap perlambatan ekonomi.
Perbedaan Kerja Sama dengan Bank dan Leasing
Budi menjelaskan bahwa ada perbedaan struktur biaya dalam pola kerja sama dan berbagi margin antara kanal bank dan BUSB. Namun, AAUI menilai hal tersebut bukan satu-satunya faktor. Aspek lain seperti efisiensi proses, integrasi sistem, serta kelincahan operasional BUSB dalam menjangkau pasar ritel juga menjadi faktor pendorong meningkatnya kontribusi premi dari kanal tersebut.
Prospek Masa Depan
Meski ada perbedaan, Budi menyatakan bahwa prospek kerja sama dengan bank tetap terbuka dan memiliki potensi, khususnya jika sektor pembiayaan perbankan kembali pulih. Namun, ia memberikan catatan bahwa tren pertumbuhan yang lebih cepat saat ini masih cenderung terjadi pada kanal BUSB sehingga kemungkinan ketimpangan kontribusi bisa berlanjut jika tidak ada terobosan distribusi atau inovasi produk di kanal bancassurance.
AAUI mendorong semua kanal distribusi, baik bank maupun non-bank, untuk terus berinovasi, meningkatkan sinergi, serta mengadopsi pendekatan pemasaran berbasis kebutuhan nasabah agar bisa tetap relevan dan kompetitif di tengah perubahan perilaku konsumen dan dinamika ekonomi nasional.


Comment