Uncategorized

Stok Beras Premium Langka Akibat Maraknya Kasus Oplosan

Minimarket Mulai Menghentikan Penjualan Beras Premium

Beberapa minimarket di berbagai wilayah kini tidak lagi menjual beras premium setelah munculnya kasus beras oplosan. Mereka lebih memilih untuk hanya menyediakan beras dengan merek sendiri, terutama yang sudah dipastikan aman dan sesuai standar.

Contohnya, Alfamidi di Kalipasir, Menteng, Jakarta Pusat, telah menghentikan penjualan beras premium di toko mereka. Dari pantauan yang dilakukan pada Jumat (1/8), bagian rak beras di toko tersebut hanya diisi oleh produk beras milik Alfamidi sendiri, yaitu Pandan Wangi dalam kemasan 5 kilogram. Karyawan toko juga mengonfirmasi bahwa beras premium tidak tersedia di gerai mereka.

Meskipun tidak menjual beras premium, toko ini masih menawarkan berbagai pilihan beras merah, nasi singkong, dan nasi jagung. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan penghentian penjualan beras premium bukan berarti menghilangkan semua jenis beras dari toko.

Di sisi lain, Indomaret di lokasi yang sama juga tidak menampilkan beras premium di raknya. Hanya beras merah merek Indomaret yang tersedia dengan harga Rp 46.000 per kemasan. Namun, beras premium masih bisa ditemukan di Foodhall Grand Indonesia, tempat beberapa merek seperti Fortune, Slyp Super, Sania, Raja Rasa, Jabal Nur, dan Hoki masih tersedia.

Ketidakhadiran beras premium di pasar ritel modern terjadi setelah kasus beras oplosan mencuat. Kejaksaan Agung bahkan telah memanggil enam produsen beras premium terkait dugaan pelanggaran. Produsen tersebut antara lain PT Wilmar Padi Indonesia, PT Food Station, PT Belitang Panen Raya, PT Unifood Candi Indonesia, PT Subur Jaya Indotama, dan PT Sentosa Utama Lestari (Javagroup).

Marc Marquez: Saya Akan Pensiun Lebih Cepat di Moto GP, Ini Sebabnya.

Penggudangan Pasokan Beras Premium

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) melaporkan bahwa lebih dari 50% pasokan beras premium di jaringan ritel modern telah digudangkan. Langkah ini diambil sebagai respons atas permintaan masyarakat, baik secara langsung maupun melalui aksi unjuk rasa.

Menurut Ketua Umum Aprindo Solihin, sebagian besar beras premium yang digudangkan berasal dari merek-merek yang sedang diperiksa oleh aparat penegak hukum. Produsen tersebut menyuplai lebih dari 50% pasokan beras premium di ritel modern.

Meski pasokan digudangkan, Aprindo menegaskan bahwa hal ini tidak berdampak pada harga jual di ritel. “Harga tetap mengikuti aturan harga eceran tertinggi (HET). Kami pastikan ritel modern tetap taat HET,” ujar Solihin.

Saat ini, HET beras premium ditetapkan sebesar Rp 14.900 per kg. Namun, seluruh produsen beras premium sepakat menurunkan harga menjadi Rp 14.700 per kg hingga 31 Juli. Aprindo juga menerima surat dari produsen untuk memperpanjang potongan harga ini hingga 15 Agustus 2025.

Pandangan Badan Pangan Nasional

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi menyarankan peritel untuk menjual beras oplosan dengan harga murah alih-alih menariknya dari pasaran. Ia menilai, jika beras diketahui mengandung butir patahan (broken) yang melebihi batas normal, maka peritel bisa menjualnya sesuai dengan tingkat broken-nya.

Pemerintah Temukan Cadangan Gas Raksasa Baru di Kalimantan Timur

“Ngapain ditarik? Dijual murah saja,” kata Arief. Ia menyarankan agar beras oplosan dijual sesuai spesifikasinya. Misalnya, jika broken-nya mencapai 30%, maka jual sesuai harga broken 30%. Hal ini bertujuan untuk menghabiskan pasokan beras oplosan di pasar.

Arief juga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mengeluarkan instruksi penarikan beras oplosan. “Ngapain ditarik? Mending kasih ke masyarakat. Saran saya dihabiskan saja, dijual sesuai dengan spesifikasi berasnya,” ujarnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *