Ekonomi

Impor Jagung AS Tanpa Tarif, Petani RI Kian Terpojok dan Harga Terancam Turun

Petani Jagung Indonesia Mengkhawatirkan Kebijakan Impor yang Dikeluarkan Pemerintah

Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) menyampaikan kekhawatiran terhadap arah visi ketahanan pangan nasional, terutama setelah adanya kebijakan pembebasan bea masuk terhadap jagung asal Amerika Serikat. Langkah ini dinilai akan merugikan petani lokal dan berpotensi membuat mereka berhenti menanam jagung.

Ketua Umum APJI, Solahuddin, menjelaskan bahwa rata-rata harga pokok produksi (HPP) jagung di dalam negeri berkisar antara Rp 4.000 hingga Rp 4.500 per kilogram. Sementara itu, jagung dari Negeri Paman Sam dijual sekitar Rp 3.500 per kg. Ia memprediksi bahwa jika jagung asal AS banyak beredar di pasar, harga jagung dalam negeri akan turun menjadi Rp 3.700 per kg. Hal ini dikhawatirkan akan mengakibatkan kerugian bagi para petani.

“Petani pasti tidak mau menanam jagung lagi jika jelas akan merugi. Pembebasan bea masuk jagung dari AS bisa membahayakan keberlanjutan pangan kita,” ujarnya.

Kebijakan ini merupakan bagian dari kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat. Presiden AS Donald J. Trump mensyaratkan tarif impor 0% untuk produk AS agar produk Indonesia dikenakan tarif 19% di pasar AS. Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui impor produk pertanian dari AS senilai US$ 4,5 miliar, termasuk jagung.

Petani Berpotensi Beralih ke Tanaman Lain

Solahuddin memperingatkan bahwa jika jagung asal AS mulai membanjiri pasar domestik, maka petani jagung lokal kemungkinan besar akan beralih ke tanaman lain. Ia memberikan contoh, sebagian petani di wilayah sekitar peternakan sapi perah telah berhenti menanam jagung dan beralih menanam rumput gajah sebagai pakan ternak karena lebih menguntungkan.

Dibuka Loker Manajer Kopdes Merah Putih, Syarat Minimal Lulusan D3/D4/S1

Saat ini, HPP jagung ditetapkan sebesar Rp 5.500 per kg melalui Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional No. 18 Tahun 2025. Solahuddin menjelaskan bahwa harga tersebut baru tercapai bulan ini, setelah sebelumnya hanya sekitar Rp 5.000 per kg.

Daya Saing Jagung Nasional Masih Rendah

Menurut Solahuddin, daya saing jagung nasional masih kalah jauh dari produk impor karena tiga faktor utama: efisiensi lahan, mekanisasi pertanian, dan keunggulan benih.

Mayoritas petani jagung lokal hanya mengelola lahan sempit, rata-rata 0,4 hektare. Sebaliknya, petani kecil di AS mampu menggarap lahan seluas 200 hektare. Dari sisi mekanisasi, satu petani di AS bisa memanen 90 hektare dalam satu hari. Sementara itu, 20 petani jagung di dalam negeri belum tentu dapat memanen lahan seluas 10 hektare dalam satu hari.

Ia juga menyoroti penggunaan teknologi canggih dalam produksi jagung di AS. “Belum lagi mereka menggunakan benih berteknologi tinggi yang telah mendapatkan perlakuan rekayasa genetik melalui teknologi nano,” katanya.

Kebijakan Impor Jagung AS Menurun Tajam

Meski kebijakan impor jagung dari AS menuai pro dan kontra, data menunjukkan tren impornya terus menyusut sejak 2016. Kala itu, volume impor jagung AS sempat melonjak hingga 303.690 ton. Namun sejak 2019, volumenya terus turun.

Ekonomi RI Jadi ‘Titik Terang’ Global, IMF Beri Sinyal Positif

Sepanjang 2024, volume jagung asal AS yang masuk ke Indonesia hanya sekitar 4.000 ton, senilai US$3,5 juta atau turun lebih dari 98% dibanding puncaknya pada 2016.

Selama ini, Indonesia lebih banyak mengandalkan impor jagung dari Argentina dan Brasil. Sejak 2023, rata-rata nilai impor dari kedua negara tersebut masing-masing mencapai US$55,6 juta dan US$21,6 juta per kuartal.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *